Sebagaimana diatas tersebut harus berdasar niat.[4] Sebagaimana kaidah fiqih

Sebagaimana Prof. Jaih Mubarak dalam bukunya menjelaskan bahwa teroris itu
sama halnya dengan perbuatan hirabah “Orang yang mengangkat senjata melawan
orang banyak dan menakut
nakuti mereka
(menimbulkan rasa takut di kalangan masyarakat)1

Lebih diperingkas
dengan pendapat Jaih Mubaroq , selain dalil-dalil Al-Qur’an maka dalil yang
digunakan MUI adalah hadist Nabi SAW tentang cegahan menakut-nakuti orang
muslim lainnya (riwayat Abu Dawud); cegahan mengacungkan senjata tajam kepada
sesama muslim (riwayat Muslim); cegahan melakukan bunuh diri (riwayat Bukhari
dan Muslim) dan kaidah fikih tentang perintah untuk menghindari kerusakan
(dharar).2 Setelah MUI menemukan dasar dalam teks baik itu
ayat-ayat Al- Qur’an, hadist maupun kaidahf iqhiyah maka sesuai dengan yang di
sosialisasikan dalam berbagai media bahwa fatwa tersebut adalah sebagai hasil keputusan
Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia dan dengani tupenulis berpendapat, bila
terdapat Ijtima’ maka putusan tersebut sudah sebagai keputusan dari kesepakatan
bersama dari Ulama Komisi Fatwa MUI pada saat membahas fatwa tentang terorisme tersebut.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

a.            
Kometar Terhadap Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 03 Tahun
2004 Tentang Terorisme

mengatakan bahwa
hukum bom bunuh diri hukumnya haram karena merupakan salah satu bentuk tindakan
keputusasaan (al ya’su) dan mencelakakan diri sendiri (ihlak an-nafs),
baik dilakukan di daerah damai (dar al-shulh/daral-salam/ dar al-da’wah)
maupun di daerah perang (dar al-harb).3

Pernyataan atau fatwa yang dikeluarkan oleh
MUI tersebut sebenarnya bertentangan dengan nash-nash Al-Quran sebagaimana
al-Quran surat At-Taubah Ayat 111

 ????? ??????? ????????? ???? ?????????????? ???????????? ??????????????? ??????? ?????? ?????????? ? ???????????? ??? ??????? ??????? ????????????? ????????????? ? ??????? ???????? ?????? ??? ???????????? ?????????????? ???????????? ? ?????? ???????? ?????????? ???? ??????? ? ??????????????? ???????????? ??????? ??????????? ???? ? ????????? ???? ????????? ??????????

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah;
lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah
di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu
lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Mengenai ayat diatas al-Qurtubi menjelas bahwa Allah swt akan menggantikan
pengorbanan yang dilakukan oleh hamba-Nya, baik pengorbanan harta benda maupun
pengorbanan nyawa dengan balasan surga. Pengorbanan diatas tersebut harus
berdasar niat.4

Sebagaimana kaidah fiqih menjelaskan mengenai niat:

?????? ????????

Segala perkara tergantung
pada niatnya

Kaidah diatas
memberikan pengertian bahwa setiap amal perbuatan, baik berupa perkataan maupun
perbuatan diukur melalui niat orang yang melakukan. Dalam perbuatan ibadah,
yaitu amal perbuatan dalam hubungannya dengan Allah (Hablum minallah), niat
(karena dan untuk Allah) adalah merupakan rukun, sehingga menentukan sah atau
tidaknya sesuatu amal. Sedangkan dalam perbuatan yang ada hubungannya dengan
sesama makhluk (Hablum minan nas) seperti muamalah, munakahah, jinayah dan
sebagainya. Niat adalah merupakan penentu apakah perbuatan-perbuatan tersebut
mempunyai nilai ibadah, sehingga merupakan perbuatan mendekatkan diri kepada
Allah atau bukan ibadah.

Sedangkan menurut Nawaf Hayl, ayat di atas dengan
jelas menunjukan bahwa untuk menebus surga adalah dengan menyerahkan nafs
(jiwa), dan ini dapat dilakukan dengan aksi bom bunuh diri. Karena bagi seorang
Mujahid hanya ada dua kemungkinan, pulang dengan selamat atau dia mati di medan
perang, dan bagi pelaku bom bunuh diri adalah dia akan mati

1ibid

2Jaih
Mubarok, Fiqh Siyasah; Study tentang
Ijtihad dan Fatwa Politik di Indonesia, Pustaka Bani Quraisy, Bandung 2005,
hlm.142-147.

3 Ma’ruf Amin dkk, Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak 1975,
(Jakarta: Erlangga, 2011), h. 76.

4Muhammad bin Ahmad Abu Bakar bin Farah al-Qurthuby Abu Abdullah sebagaimana
dikutip oleh Imam Mustofa “Bom Bunuh diri : Antara Jihad Dan Teror (Meluruskan
Pemahaman Hukum Bom Bunuh diri)”, dalam Jurnal al-Manahij Vol V,No. 1, Januari
2011 (109-124), h.112.