Kemajuan alami. Sayangnya, tidak semua generasi Z dapat memanfaatkan

Kemajuan teknologi semakin lama
semakin berkembang pesat. Sebelum gawai canggih dengan teknologi pesan instan
dan media sosial dapat dimiliki oleh hampir semua orang, manusia sebagai
makhluk sosial biasa berkomunikasi dengan sesama secara tatap muka dan
menggunakan berbagai perangkat sebagai pendamping aktifitas dan hiburan. Seiring
perkembangan jaman, kini manusia memanfaatkan teknologi canggih seperti gawai
dan media sosial untuk berkomunikasi, berbagi informasi, mengakses hiburan dan
sebagainya, semua dalam satu perangkat. Sayangnya, hal tersebut membuat manusia
kini sering sekali menggunakan teknologi canggih hanya untuk kepuasan diri
sendiri tanpa memikirkan prioritas yang lebih penting.

Hal ini tidak hanya terjadi pada
orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang lahir sebagai bagian dari generasi Z.
Anak-anak yang merupakan generasi Z merupakan mereka yang lahir dimana
teknologi canggih sudah tersedia dimana saja dan mereka sudah dapat
mengaksesnya dengan mudah. Mereka dapat mengoperasikan gawai canggih untuk mengakses
internet, dan dunia virtual adalah hal yang alami. Sayangnya, tidak semua
generasi Z dapat memanfaatkan gawai canggih sesuai dengan prioritasnya. Generasi
Z cenderung lebih mementingkan kehidupan sosial di atas prioritas lainnya.
Namun, tidak semua dari generasi Z memiliki kehidupan yang sama dengan yang
mereka bagikan secara online. Hal ini
membuat generasi Z merasakan celah yang tidak dapat dipertemukan antara
kenyataan dan keinginan, yang berdampak terhadap kepercayaan diri mereka
bergantung kepada eksistensi di mata orang lain. Mereka cenderung merasa tidak
percaya diri dan kecewa, sehingga lebih suka duduk di rumah dan menunggu
seseorang untuk memperhatikan mereka dan memberikan pujian yang sering
dikatakan oleh orangtua mereka: mereka fantastis.  (Bencsik,
Horváth-Csikós, & Juhász, 2016).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Animasi

Untuk menyampaikan pesan dampak dari
penggunaan gawai canggih yang tidak baik terhadap kehidupan sosial anak-anak generasi
Z, penulis tertarik untuk membuat sebuah media berupa karya animasi bertema
kehidupan virtual versus kehidupan
nyata. Animasi adalah bentuk seni dimana
gambar dua dimensi (2D) atau benda mati dibuat seolah-olah bergerak sebagai
representasi visual bergerak di mata manusia. Animasi berasal dari bahasa latin
yaitu anima yang berarti jiwa, hidup,
dan semangat. Secara umum animasi bisa diartikan sebagai gambar yang memuat
benda-benda mati yang diberikan dorongan, kekuatan, semangat dan emosi untuk
menjadi hidup atau terkesan hidup. Sebenarnya animasi juga bisa diartikan
sebagai gambar yang menjadi hidup disebabkan oleh kumpulan gambar itu berubah
secara beraturan dan ditampilkan bergantian.

Animasi  berasal 
dari  kata  ‘to 
animate’ yang berarti bergerak. Di Indonesia, kata ‘animasi’  sendiri 
sebenarnya  merupakan penyesuaian  dari 
kata  ‘animation’  dalam bahasa 
Inggris.  Jadi  secara 
harfiahnya animasi  dapat  berarti 
‘menggerakkan’. Menggerakkan 
disini  maksudnya yaitu membuat gambar  seolah-olah 
bergerak,  sehingga objek  yang 
dihasilkan  tampak  terkesan hidup dan memiliki emosi (Rizal, 2011).