Bullying biasanya korban dipanggil dengan nama yang memiliki konotasi

Bullying
is a repeated act of violence involving physical strength between the victim
and the perpetrator. In Indonesia, the Indonesian Child Protection Commission
(KPAI) released data that bullying cases were found to be about 87.6% where
more male victims than women and bullying behaviors are more prone to early
adolescence. The purpose of this research is to explore the meaning of life
experiences of bullying victims in adolescents atdormitory. This research uses
qualitative interpretive approach, data collecting technique with in-depth
interview. Themes generated in this study as many as four themes of trying to
secure themselves, seeking help parents and coaches students, helplessness,
doing business in vain. The problems faced related to bullying behavior on
adolescent mental health is very complex. This condition will continue if no
solution is found immediately to break the chain considering the danger of
bullying behavior to health problems.

Keywords:
Adolescent, Bullying, Dormitory

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

1.   
Pendahuluan

Bullying
merupakan tindakan kekerasan yang dilakukan secara berulang dan melibatkan
adanya kekuatan fisik antara korban dan pelaku. Di Indonesia, Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis data bahwa kasus bullying
ditemukan sekitar 87,6 %  dimana korban
laki-laki lebih banyak dari perempuan dan perilaku bullying lebih rentan
terjadi pada usia remaja awal (Desiree, 2013 ; Aisiya 2015).

Bullying
dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti fisik, verbal dan mental. Perilaku bullying
dengan fisik dilakukan dengan cara menendang, memukul, mendorong, menginjak
kaki. Sedangkan untuk perilaku bullying verbal biasanya korban dipanggil
dengan nama yang memiliki konotasi negatif, menyinggung perasaan, dan mencibir.
Perilaku bullying mental dilakukan dengan cara mengancam maupun
menggertak. Perilaku bullying ini sering kali terjadi di lingkungan
sekolah seperti toilet, kantin dan taman. Berbagai penelitian terdahulu
menjelaskan bahwa perilaku bullying dilihat dari dua sisi yaitu pelaku
maupun korban. Pelaku yang sering melakukan bullying pada umumnya merasa
bahwa dirinya memiliki kekuatan fisik yang lebih kuat daripada korban, sering
melanggar aturan tata tertib,  punya
pengalaman menjadi saksi atau korban perilaku bullying, berasal dari
lingkungan keluarga yang memicu terjadinya bullying, pola asuh orang tua
serta kurangnya kedekatan hubungan antara anak dan orang tua.  Namun korban yang rentan mendapat perilaku bullying
sebagian besar terjadi pada anak yang pendiam, kemampuan adaptasi yang kurang,
lemah, sulit konsentrasi dalam belajar, tidak punya teman, mengalami masalah
fisik, sering menyendiri dan pernah mendapatkan perilaku bullying
(Salleh, 2014 ; Okoth, 2014 ; Tumon, 2014 ; Wahyuni, 2014).

Bullying
yang terjadi di Indonesia banyak ditemukan di lingkungan sekolah baik formal
maupun non formal. Di lingkungan sekolah non formal seperti pesantren juga
banyak terjadi kasus bullying. Menurut peneliti terdahulu sekitar 61 –
73 % bullying terjadi di lingkungan pesantren dalam bentuk kekerasan,
pemerasan, mengancam dan mengambil barang–barang (Ndetei, 2007 ; Okoth, 2014).

Berdasarkan
studi fenomenologi menurut Ndetei et al , (2007) perilaku bullying juga
terjadi di lingkungan pesantren. Saat dilakukan penelitian di sekolah
menengah  dengan melakukan wawancara dari
beberapa siswa menyatakan bahwa  bentuk bullying
yang banyak terjadi dengan memukul, mengejek, memanggil nama panggilan,
mengancam, mengambil barang milik korban. Perilaku tersebut dilakukan secara
berulang-ulang dan berkelanjutan. Keadaan ini akan terus berlangsung karena
korban tidak berani untuk melawan. Dampak dari perilaku bullying dapat
menyebabkan korban merasa malu, tertekan, perasaan takut, sedih dan cemas. Jika
kondisi ini berkepanjangan bisa mengarah ke depresi (Okoth, 2014). Selain dampak
dari masalah psikologis juga dapat berpengaruh terhadap masalah kesehatan fisik
seperti memar pada daerah yang dipukul, lecet, bengkak, sulit tidur, nafsu
makan menurun. Gejala lain yang dimunculkan diantaranya merasa terancam, sulit
berkonsentrasi, penurunan prestasi akademik dan merasa sendiri (Laehem, 2013).

Berdasarkanpenelitian
lain disalah satu lingkungan pesantren Jombang diperoleh data bahwa kejadian bullying
sering terjadi pada siswa sekolah menengah yang baru. Pesantren merupakan
lingkungan yang mempunyai rutinitas kegiatan antara senior dan junior. Selain
itu karakteristik lingkungan pesantren yang memiliki jumlah santri yang cukup
banyak. Santri datang dari berbagai daerah yang memiliki perbedaan latar
belakang budaya. Jumlah pembina santri dengan banyaknya santri yang tinggal di
pesantren tidak seimbang. Letak bangunan komplek antara santri lama dengan yang
baru tidak dipisahkan. Santri yang tinggal di pesantren tidak semua atas
keinginan pribadi melainkan karena paksaan dari orang tua. Sehingga hal ini
yang menjadi pemicu terjadinya bullying. Korban bullying mengaku
bahwa ada rasa ketakutan, terancam, merasa tidak aman, sehingga hal ini
mempengaruhi mental siswa selama berada di lingkungan tersebut. Dampak lanjut
dari kejadian bullying pada siswa tidak mau masuk sekolah dan memutuskan
untuk tidak melanjutkan sekolah (Yani, 2016).

Remaja yang
tinggal di lingkungan pesantren lebih banyak menghabiskan waktunya di pesantren
dari pada sekolah, waktu untuk bertemu dengan teman dan senior lebih lama.  Jika remaja atau santri kurang memiliki
kemampuan untuk beradaptasi kondisi tersebut bisa menimbulkan konflik sehingga
terjadi perilaku bullying. Bullying sering terjadi di lingkungan
pesantren umumnya dilakukan oleh santri yang sudah lama tinggal di pesantren
dan merasa berkuasa. Bentuk kekuasaan dengan tidak mau antri ketika ke kamar
mandi, mengambil jatah makan orang lain, berbicara kasar, mengejek, mengambil
barang korban seperti uang, sandal, baju dan seragam. Sering kali senior juga
menyuruh mengambilkan minum, minta membelikan makanan  di kantin, melihat sinis, meminta uang jika
tidak akan mengancam, sering kali korban dikucilkan dan dilakukan pengeroyokan
(Desiree, 2013; Yani, 2016).