A. No. 22 tahun 2016 tentang standar proses menyatakan

A.    LATAR
BELAKANG

Fisika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang fenomena alam sekitar, yang sangat berperan penting dalam
pengembangan teknologi modern. Belajar fisika
adalah proses yang
aktif sehingga pembelajarannya lebih
menekankan pada kegiatan pengamatan dan penelitian.  Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menggali pengetahuan, mengembangkan keterampilan berpikir,
serta keterampilan proses sains
dalam proses pembelajaran (Yulianti, et
al., 2015).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Tingkat kemajuan suatu bangsa atau negara dapat diukur
melalui kualitas sumber daya manusianya. Pemerintah berupaya agar masyarakat
mendapatkan pendidikan secara layak yang bertujuan untuk menciptakan sumber daya
manusia yang berkualitas yaitu dengan dikembangkannya Kurikulum 2013, yang
merupakan perbaikan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum 2013 mempunyai
3 ciri khas yaitu diterapkannya pendekatan ilmiah (scientific approach); kompetensi lulusan yang diterapkan yaitu
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan; serta diterapkannya penilaian
otentik. Pada kurikulum 2013 menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada
siswa sehingga guru sebagai pembimbing dan fasilitator dengan bertujuan dapat
meningkatkan keterampilan siswa. Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang standar
proses menyatakan bahwa dalam memperkuat pendekatan ilmiah (scientific approach), diperlukan suatu
pembelajaran yang berbasis penemuan/penyelidikan (discovery/inquiry learning) yang diterapkan pada kegiatan proses
pembelajaran.

Berdasarkan pra-penelitian di SMAN 16 Surabaya pada hari
Senin, 23 Oktober 2017 diperoleh bahwa, berdasarkan hasil angket yang diberikan
pada siswa yaitu rata-rata siswa menyatakan pernah melaksanakan kegiatan
eksperimen sebanyak 1-2 kali, namun beberapa siswa mengalami kesulitan pada
aspek keterampilan proses sains yang diujikan yaitu pada aspek menentukan
hipotesis sebesar 73,91% siswa, aspek menentukan variabel sebesar 60,87% siswa,
aspek merumuskan masalah sebesar 39,10% siswa, aspek menerapkan konsep sebesar
21,74% siswa, aspek menginterpretasi sebesar 43,48% siswa, dan aspek
menyimpulkan sebesar 17,39% siswa. Hal tersebut dikarenakan, sesuai informasi
yang diperoleh melalui wawancara pada salah satu guru fisika SMAN 16 Surabaya
menyatakan bahwa dalam pembelajaran beliau jarang melengkapi dengan kegiatan laboratorium
karena keterbatasan alat dan bahan yang ada di laboratorium. Oleh karena itu, berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui
bahwa keterampilan proses sains siswa belum maksimal,  sehingga perlu adanya suatu model pembelajaran
supaya siswa dapat melatihkan keterampilan proses sains dengan baik dan
mendapatkan hasil yang maksimal.

Model pembelajaran yang dapat
melatihkan keterampilan proses sains salah satunya yaitu model pembelajaran
inkuiri. Model pembelajaran inkuiri merupakan suatu model pembelajaran yang memberikan
peluang pada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri, meningkatkan
keingintahuan siswa, dan membuat siswa senang dalam proses pembelajaran dengan
dibantu oleh guru melalui  kegiatan penyelidikan
(Kustijono, 2012). Salah satu model pembelajaran inkuiri yaitu inkuiri
terstruktur. Inkuiri terstruktur merupakan salah satu model pembelajaran dimana
guru memberikan suatu permasalahan beserta prosedurnya kepada siswa untuk
diselidiki (Banci & Bell, 2015). Siswa tidak diberitahu mengenai hasil yang
akan diperoleh. Siswa diminta untuk menentukan sendiri hubungan antar variabel hingga
penyimpulan berdasarkan data yang diperoleh. Model pembelajaran inkuiri
terstruktur menyeimbangkan 3 kompetensi yaitu sikap, pengetahuan dan
keterampilan, sehingga pembelajaran lebih bermakna, dengan  melibatkan siswa secara aktif dalam
penyelidikan melalui kegiatan eksperimen.

Keterampilan proses merupakan sesuatu
yang mendasar untuk memperoleh ilmu pengetahuan, namun harus dimiliki oleh
siswa (Jack, 2013). Keterampilan proses yang dimiliki oleh siswa masih perlu
dilatih melalui kegiatan eksperimen.  Keterampilan
proses terdapat 2 bagian yaitu keterampilan proses dasar yang digunakan dalam
ilmu pengetahuan dan non-ilmu
pengetahuan dan terintegrasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh ilmuwan dan
teknologi. Berdasarkan keterampilan proses dasar dan terintegrasi, diperoleh keterampilan
proses sains yang dapat diartikan sebagai dasar dari pemikiran ilmiah dan
penelitian (Mutlu et al., 2013).   

Berdasarkan penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Handriani, et al.,
(2015) di SMAN 1 Gerung menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri terstruktur
lebih memberikan pengaruh positif daripada diterapkannya model pembelajaran
langsung dalam proses pembelajaran. Penelitian yang dilakukan oleh Hodosyová,
et al., (2015) menunjukkan keterampilan proses sains yang tertinggi yaitu
penguasaan konsep sebesar 92% dan yang terendah yaitu merencanakan eksperimen
sebesar 33%.  Penelitian yang dilakukan
oleh Hasanah, et al., (2016) di SMAN
Arjasa Kabupaten Jember menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri
menghasilkan pengaruh positif dari siswa ditinjau dari keterampilan proses sains.
Semua aspek keterampilan proses sains yang diterapkan tergolong kriteria baik yaitu
meliputi menentukan hipotesis, melakukan percobaan, melakukan pengamatan,
mencatat hasil pengamatan, membuat grafik, menganalisis data, menyimpulkan, dan
mengkomunikasi.

Salah satu
materi Fisika SMA yang dapat menunjang siswa untuk melatih keterampilan proses
sains melalui kegiatan laboratorium yaitu materi Hukum Newton tentang gerak.
Pada materi Hukum Newton tentang gerak tersebut menuntut siswa untuk melakukan
kegiatan laboratorium dengan menerapkan metode ilmiah.  Keterampilan proses sains dapat dilatihkan
kepada siswa dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang meminta siswa secara aktif dalam
kegiatan eksperimen, salah satunya
yaitu denagan menerapkan model pembelajaran inkuiri terstruktur.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti akan
melakukan penelitian dengan menerapan model pembelajaran inkuiri terstruktur untuk
melatihkan keterampilan proses sains kelas X pada materi Hukum Newton tentang gerak.
Penerapan model pembelajaran inkuiri terstruktur diharapkan menjadi solusi bagi
siswa dalam kegiatan pembelajaran.