1. rangkain bit yang dibagi menjadi blok – blok

1.            LatarBelakangKeamanan data dan informasi merupakan hal sangatpenting di era reformasi saat ini. Umumnya, setiap institusi memilikidokumen-dokumen penting dan bersifat rahasia yang hanya boleh diakses olehorang tertentu. Sistem informasi yang dikembangkan harus menjamin keamanan dankerahasiaan dokumen-dokumen tersebut. Namun kendalanya bahwa media-media yangdigunakan seringkali dapat disadap oleh pihak lain 1.Kriptografi (cryptography)merupakan ilmu dan seni untuk menjaga pesan agar aman. (Cryptography is the art and science of keeping messages secure) “Crypto” berarti “secret” (rahasia) dan “graphy”berarti “writing” (tulisan). Parapelaku atau paraktisi kriptografi disebut cryptographers.

Sebuah algoritmakriptografik (cryptographic algorithm),disebut cipher, merupakan persamaanmatematik yang digunakan untuk proses enkripsi dan dekripsi. Biasanya persamaankedua matematik (untuk enkripsi dan dekripsi) tersebut memiliki hubunganmatematis yang cukup erat 2.      Blok cipher adalah rangkain bit yang dibagi menjadi blok – blok bit yang panjangnya sudah ditentukansebelumnya. Plainteks akan diproses dengan panjang blok yang tetap, pada datayang panjang maka dilakukan pemecahan dalam bentuk blok yang lebih kecil.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Jikadalam pemecahan dihasilkan blok data yang kurang dari jumlah data dalam blokcipher memproses teks dengan blok yang relatif panjangnya lebih dari 64-bit, untuk mempersulit teknikkriptanalisis dalam membongkar kunci 3. DES termasuk dalam algoritma enkripsiyang sifatnya cipher block, yang berarti DES mengubah data masukan menjadi blok– blok 64-bit dan kemudian menggunakan kunci enkripsi sebesar 56-bit. Setelahmengalami proses enkripsi maka akan menghasilkan output blok 64-bit. Seiringdengan perkembangan teknologi, kunci DES yang sebesar 56-bit dianggap sudah tidakmemadai lagi 4.Algoritma kriptografi yang baik akan memerlukan waktu yang lama untuk memecahkan data yang telahdisediakan.

Seiring dengan perkembangan teknologi komputer maka dunia teknologiinformasi membutuhkan algoritma kriptografi yang lebih kuat dan aman. Saat ini,AES/Rijindael (Advanced EncryptionStandard) digunakan sebagai standar algoritma kriptografi yang terbaru.AES/Rijindael menggantikan DES (DataEncryption Standar) yang pada tahun 2002 sudah berakhir masa penggunaannya.DES juga dianggap tidak mampu lagi untuk memjawab tantangan perkembanganteknologi komunikasi yang sangat cepat. AES/Rijindael sendiri adalah algoritmakriptografi dengan menggunakan algoritma AES/Rijindael yang dapat mengenkripsidan mendekri blok data sepanjang 128 bit dengan panjang kunci 128 bit, 192 bit,atau 256 bit 5. Tetapi pada zaman sekarang ini teknik pengamanan datadengan kriptografi masih dirasa kurang.

Setelah dilakukan proses enkripsi padasuatu data maka kita perlu menyembunyikan data tersebut di dalam suatu datayang lain sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pada pihakpihak yang tidakberkepentingan. Proses seperti yang disampaikan diatas disebut denganSteganografi.Berdasarkan masalah tersebut, maka penulis mengusulkanjudul penelitian “Kajian Perbandingan Enkripsi – Dekripsi DES dan AES” sebagaibahan pertimbangan dan perbandingan untuk proses keamanan pada pengiriman datayang bertujuan untuk membandingan proses enkripsi – dekripsi dari keduaalgoritma tersebut.2.

            KajianPustakaPada bagian ini akan membahas beberapa pustaka yangakan digunakan sebagai landasan teori yang dapat dijadikan sebagai acuan ataujuga sebagai pembanding terkait perbandingan enkripsi – dekripsi DES dan AES.Sebagai pustaka yang diacu adalah penelitian terdahulu yang telah dilakukanyang terkait dengan kriptografi DES dan AES.2.1 Penelitian Terdahulu Pada bagian ini akan membahas beberapa pustaka yangdigunakan sebagai landasan teori yang dapat dijadikan acuan atau juga sebagaipembanding terkait perbandingan algoritma DES dan AES. Berikut ini sebagaipustaka yang diacu adalah penelitian terdahulu yang telah dilakukan terkaitdengan kriptografi DES dan kriptografi AES Penelitian sebelumnya yang berjudulEnhancing the Security of DES Algorithm Using Transposition Cryptography Techniquesmenggunakan teknik transposition untuk meningkatkan keamanan kriptografi DES.Penelitian ini menggunakan plaintext yang akan dienkripsi dengan algoritma DESyang sudah dimodifikasi dengan tambahan teknik transposition.

Tekniktransposition yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simple ColumnarTransposition Technique (SCTTMR). SCTTMR adalah teknik transposition yangmenyusun plaintext ke dalam sebuah bujur sangkar atau tabel atau matriks danmembacanya dengan urutan kolom secara acak. Teknik SCTTMR dilakukan di awalproses enkripsi. Sehingga plaintext yang akan dienkripsi menggunakan algoritmaDES sudah merupakan hasil dari modifikasi SCTTMR. Penelitian ini menghasilkanpeningkatan keamanan pada algoritma DES. Jika intruder ingin menyerang algoritmamodifikasi ini, maka diperlukan urutan random kolom yang digunakan pada prosesSCTTMR dan memerlukan waktu yang lebih lama 6.Hasil penelitian yang lain berjudul Enkripsi danDekripsi dengan Algoritma AES 256 untuk Semua Jenis File. Hasil penelitian menunjukanbahwa algoritma AES dengan panjang kunci 256 bit dapat menyandikan isi suatufile sehinggadapat mengamankan file tersebut.

Ukuran file enkripsi akanbertambah 11 bytes dari file asli karena adanya proses penambahan header yangberisi informasi ekstensi file 7. 2.2 Block Cipher Block cipher akan melakukan pembagianplain text menjadi block – block yang akan disandikan per block. Kunci yangdisediakan dalam jumlah bit tertentu misalnya 64 bit. Data yang akan dienkripsiakan di bagi – bagi menjadi block yang panjangnya 64 bit juga. Jika kitamemiliki data yang jumlah bitnya bukan kelipatan 64 misalnya 158 bit maka untukmembuat block yang ketiga menjadi 64 bit.

Data yang ditambahkan merupakansampah disebut padding. Setelah kita mendapatkan block – block yang berasaldari hasil pembagian data asli block – block data tersebut kita enkripsi blockdemi block menjadi beberapa block cipher text. Untuk melakukan enkripsi ini adadua contoh algoritma yang ingin dipaparkan dibawah ini : a.    Electronic Code Block (EBC)Algoritma EBC ini pertama akan membagi text menjadi block –block data kemudian masing – masing block oprasikan EXOR dengan kunci. Padasaat melakukan dekripsi maka prosesnya akan dibalik yaitu dengan melakukanoperasi EXOR terhadap block – block cipher maka kita akan dapatkan kembali datayang asli. Untuk mendapatkan data asli secara keseluruhan maka tinggaldisambung saja block – block yang dihasilkan. Untuk lebih jelasnya dapatdilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 2.

2.1 Algoritma EBCKelemahan dari algoritma ini adalah kita tidak dapatmendeteksi jika ada keterputusan proses enkripsi maupun dekripsi karena tidakada kaitan antara block yang pertama dengan block yang kedua dan seterusnya.Oleh karena itu jika yang didekrip hanya sampai block ketiga saja pada contohdiatas maka tidak akan terdeteksi.

b.    Cipher Block Chaining (CBC)Untuk memperbaiki kelemahan algoritma EBC diciptakanlahalgoritma CBC yang mengkaitkan antara hasil enkripsi block pertama denganenkripsi block berikutnya.Gambar 2.

2.2 Algoritma CBCDengan cara diatas jika diketahui terutus salah satu blocksaja pada saat dekripsi maka tidak dapat didapatkan text aslinya dan bisaterdeteksi 8.2.

3 DataEncryption Standar (DES)DES termasuk ke dalam sistem kriptografi simetri dantergolong jenis cipher blok. DES beroperasi pada ukuran blok 64 bit. DESmengenkripsikan 64 bit plainteks menjadi 64 bit cipherteks dengan menggunakan56 bit kunci internal (internal key) atau up-kunci (subkey). Kunci internaldibangkitkan dari kunci eksternal (external key) yang panjangnya 64 bit. Skemaglobal dari algoritma DES adalah sebagai berikut: 1. Blok plainteks dipermutasidengan matriks permutasi awal (initial permutation atau IP). 2. Hasil permutasiawal kemudian dienciphering- sebanyak 16 kali (16 putaran).

Setiap putaranmenggunakan kunci internal yang berbeda. 3. Hasil enciphering kemudiandipermutasi dengan matriks permutasi balikan (invers initial permutation atauIP-1 ) menjadi blok cipherteks. Di dalam proses enciphering, blok plainteksterbagi menjadi dua bagian, kiri (L) dan kanan (R), yang masingmasingpanjangnya 32 bit. Kedua bagian ini masuk ke dalam 16 putaran DES. Pada setiapputaran i, blok R merupakan masukan untuk fungsi transformasi yang disebut f.Pada fungsi f, blok R dikombinasikan dengan kunci internal Ki . Keluaran daifungsi f di-XOR-kan dengan blok L untuk mendapatkan blok R yang baru.

Sedangkanblok L yang baru langsung diambil dari blok R sebelumnya. Ini adalah satuputaran DES. a.

    EncipheringProsesenciphering terhadap blok plainteks dilakukan setelah permutasi awal (lihatGambar 2.2). Setiap blok plainteks mengalami 16 kali putaran enciphering.

Setiap putaran enciphering merupakan jaringan Feistel yang secara matematisdinyatakan sebagai: Li = Ri – 1 Ri = Li – 1 Åf(Ri – 1, Ki) E adalah fungsi ekspansi yang memperluas blok Ri – 1 yangpanjangnya 32-bit menjadi blok 48 bit. Fungsi ekspansi direalisasikan denganmatriks permutasi ekspansi sebagai berikut:Gambar2.3.1 Matrix permutasi ekspansiSelanjutnya,hasil ekpansi, yaitu E(Ri – 1), yang panjangnya 48 bit diXOR-kan dengan Ki yangpanjangnya 48 bit menghasilkan vektor A yang panjangnya 48-bit: E(Ri – 1) Å Ki = A Vektor A dikelompokkanmenjadi 8 kelompok, masing-masing 6 bit, dan menjadi masukan bagi prosessubstitusi. Proses substitusi dilakukan dengan menggunakan delapan buah kotak-S(S-box), S1 sampai S8. Setiap kotak-S menerima masukan 6 bit dan menghasilkankeluaran 4 bit. Kelompok 6-bit pertama menggunakan S1, kelompok 6-bit keduamenggunakan S2, dan seterusnya.b.

    DekripsiProsesdekripsi terhadap cipherteks merupakan kebalikan dari proses enkripsi. DESmenggunakan algoritma yang sama untuk proses enkripsi dan dekripsi. Jika padaproses enkripsi urutan kunci internal yang digunakan adalah K1, K2, …, K16,maka pada proses dekripsi urutan kunci yang digunakan adalah K16, K15, …, K1.Untuk tiap putaran 16, 15, …, 1, keluaran pada setiap putaran decipheringadalah : Li = Ri – 1 Ri = Li – 1 Å f(Ri – 1, Ki) Dalam halini, (R16, L16) adalah blok masukan awal untuk deciphering.

Blok (R16, L16)diperoleh dengan mempermutasikan cipherteks dengan matriks permutasi IP-1 .Pra-keluaran dari deciphering adalah adalah (L0, R0). Dengan permutasi awal IPakan didapatkan kembali blok plainteks semula. Tinjau kembali prosespembangkitan kunci internal. Selama deciphering, K16 dihasilkan dari (C16, D16)dengan permutasi PC-2. Tentu saja (C16, D16) tidak dapat diperoleh langsungpada permulaan deciphering. Tetapi karena (C16, D16) = (C0, D0), maka K16 dapatdihasilkan dari (C0, D0) tanpa perlu lagi melakukan pergeseran bit.

Catatlahbahwa (C0, D0) yang merupakan bit-bit dari kunci eksternal K yang diberikanpengguna pada waktu dekripsi. Selanjutnya, K15 dihasilkan dari (C15, D15) yangmana (C15, D15) diperoleh dengan menggeser C16 (yang sama dengan C0) dan D16(yang sama dengan C0) satu bit ke kanan. Sisanya, K14 sampai K1 dihasilkan dari(C14, D14) sampai (C1, D1). Catatlah bahwa (Ci – 1, Di – 1) diperoleh denganmenggeser Ci dan Di dengan cara yang sama, tetapi pergeseran kiri (left shift)diganti menjadi pergeseran kanan (right shift) 9. 2.

4 AdvancedEncryption Standard (AES) / RijndaelAlgoritma Rijndaelterpilih sebagai algoritma kriptografi yang selain aman juga efisien dalamimplementasinya dan dinobatkan sebagai AES, nama Rijndael sendiri berasal dari gabungan nama penemunya. Rijndael termasuk dalam jenis algoritmakriptografi yang sifatnya simetri dan cipherblock. Dengan demikian algoritma ini mempergunakan kunci yang sama saatenkripsi dan dekripsi serta masukan dan keluarannya berupa blok dengan jumlahbit tertentu. Rijndael mendukungberbagai variasi ukuran blok dan kunci yang akan digunakan. Namun algoritma inimempunyai ukuran blok dan kunci yang tetap sebesar  128, 192, 256 bit 10. a.    RepresentasiDataInput dan output dari algoritma AES terdiri dari urutan data sebesar 128 bit.

Urutan data yang sudah terbentuk dalam satu kelompok 128 bit tersebut disebutjuga sebagai blok data atau plaintext yang nantinya akan dienkripsi menjadiciphertext. Cipher key dari AES terdiri dari key dengan panjang 128 bit, 192bit, atau 256 bit. Urutan bit diberi nomor urut dari 0 sampai dengan n-1 dimanan adalah nomor urutan. Urutan data 8 bit secara berurutan disebut sebagai bytedimana byte ini adalah unit dasar dari operasi yang akan dilakukan pada blokdata.b.    EnkripsiProsesenkripsi pada algoritma AES terdiri dari 4 jenis transformasi bytes, yaituSubBytes, ShiftRows, Mixcolumns, dan AddRoundKey.

Pada awal proses enkripsi,input yang telah dikopikan ke dalam state akan mengalami transformasi byteAddRoundKey. Setelah itu, state akan mengalami transformasi SubBytes,ShiftRows, MixColumns, dan AddRoundKey secara berulang-ulang sebanyak Nr.Proses ini dalam algoritma AES disebut sebagai round function. Round yangterakhir agak berbeda dengan round-round sebelumnya dimana pada round terakhir,state tidak mengalami transformasi MixColumns.c.    DekripsiTransformasicipher dapat dibalikkan dan diimplementasikan dalam arah yang berlawanan untukmenghasilkan inverse cipher yang mudah dipahami untuk algoritma AES.Transformasi byte yang digunakan pada invers cipher adalah InvShiftRows,InvSubBytes, InvMixColumns, dan AddRoundKey.

Algoritma dekripsi dapat dilihatpada skema berikut ini :Gambar2.4.1 Algoritma dekripsi AES 93.            MetodePenelitian Pada penelitian ini disjikan studi perbandingan antaraDES dan AES. Dengan dilakukannya perbandingan enkripsi dan dekripsi padaalgoritma DES dan AES. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitupengumpulan data, analisis kebutuhan, perbandingin DES dan AES, pengolahan datayang akan di uji, dan pengambilan kesimpulan dari data yang telah di uji.

Metode – metode tersebut meliputi tentang pengelompokan data dan kelayakandata, sehingga menghasilkan pembahasan dengan pemecahan masalah serta kesulitanapa saja yang didapatkan dalam melakukan setiap tahap penelitian tersebutseperti gambar dibawah ini : Gambar 3.1 tahapan penelitian4.            HasilPembahasanPada penelitian ini menggunakan 2 metode kriptografiyaitu Data Encryption (DES) dan Advanced Encryption Standard (AES) 256 bit.Untuk menghasilkan pesan teks yang asli terlebih dahulu data akan dienkripsiterlebih dahulu kemudian akan didekripsi menggunakan algoritma DES dan AES.Berikut ini adalah langkah – langkah proses enkripsipada algoritma DES dan AES :a.    Prosesenkripsi data algoritma DESUntukmelakukan proses enkripsi langkah pertama yaitu kita terlebih dahulu menentukaplaintext disini digunakan plaintext (SEMARANG) setelah itu mencari asci padaplaintext yang digunakan. Setelah mencari asci kemudian ubahlah bilangan ascike bilangan biner, setelah itu merubah bilangan biner ke bilangan hexa sepertigambar di bawah ini :Gambar4.

1 langkah enkripsi algoritma DESSetelah mendapatkan bilangan hexaselanjutnya akan dienkripsi dan menghasilan ciphertext. Untuk menghasilkanciphertext digunakan key (input) “752878397493CB70” dan bilangan hexa yang yang sebelumnya akan digunakansebagai plaintext (input) seperti gambar di bawah ini :Gambar 4.2 prosesenkripsi menghasilkan ciphertextDari proses enkripsi menggunakan algoritmaDES diatas plaintext “SEMARANG” akan menghasilkan sebuah ciphertext “F221ED3E2EEB219C” seperti pada gambardiatas.Gambar 4.3 hasil dariproses enkripsi DESb.

     Proses enkripsi datapada algoritma AESUntuk melakukan proses enkripsi data menggunakan algoritma AES yang pertamamenentukan plaintext disini digunakan plaintext “FTIUKSWSALATIGA” setelahmenentukan plaintext kemudian akan diubah menjadi asci plaintext seperti gambardi bawah ini : Gambar 4.4 proses merubah plaintext menjadi asci plaintextSetelah itu asci plaintext akan dienkripsi untuk menghasilkan ciphertext. Untuk mendapatkan ciphertext digunakankey (input) “2B7E151628AED2A6ABF7158809CF4F3C” dan bilangan asci plaintext akandigunakan sebagai plaintext (input) seperti pada gambar di bawah ini : Gambar 4.5 prosesenkripsi menghasilkan ciphertextDari proses enkripsi menggunakan algoritmaAES diatas plaintext “FTIUKSWSALATIGAA” akan menghasilkan sebuah ciphertext”CC559141A5AC8B853F0C7C6B053CF9E8″ seperti pada gambar diatas.Gambar 4.

6 hasil dariproses enkripsi algoritma AES5.            KesimpulanDalam penulisan ini disajikan studi perbandinganantara algoritma DES dan algoritma AES. Dengan dilakukannya penelitianperbandingan algoritma DES dan algoritma AES berdasarkan data yang digunakandan diperoleh hasil enkripsi dari algoritma DES dan algoritma AES, dapatdisimpulkan bahwa algoritma AES membutuhkan waktu enkripsi yang lebih singkatdibandingkan dengan algoritma DES. Dikarenakan algoritma DES memerlukan prosesyang lebih panjang saat melakukan enkripsi sebuah data dibandingkan denganalgoritma AES. 6.            DaftarPustaka1.

    MuhammadFairuzabadi, “Implemetasi Kriptografi Klasik menggunakan Borland Delphi,”Jurnal Dinamika Informatika, pp. 65-78, September 2010.2.    Sasongko,”Pengamanan Data Informasi menggunakan Kriptografi Klasik,” DINAMIK, vol.

X, no.3, pp. 160-167, September 2005.23.    Aprilianti,Ruwanita, 2012.” Enkripsi dan Dekripsi File Menggunakan Algoritma AES 128 “Politeknik Negeri Sriwijaya.

34.    http://puslit2.petra.

ac.id/ejournal/index.php/jte/article/viewFile/17452/173694.5.    www.jurnal.stmik-mi.ac.

id/index.php/jcb/article/download/90/9556.    Sunil,S.

, Maakar, K., & Kumar, S., 2015,Enhancing the Security of DES AlgorithmUsing Transposition Cryptography Techniques, International Journal of AdvancedResearch in Computer Science and Software Engineering,http://www.ijarcsse.com/docs/papers/Volume_3/6_June2015/V3I6- 0267.

pdf 7.    Yuniati,V., Indrianta, G.,&Rachmat, A., 2009,Enkripsi dan Dekripsi dengan AlgoritmaAES 256 untuk semua jenis file:Yogyakarta.http://ti.

ukdw.ac.id/ojs/index.php/informatika/article/viewfile/69/298.    http://p3m.

amikom.ac.id/p3m/dasi/maret2001/006%20-%20kriptografi.

pdf 9.    Soni,S., Agrawal, H., & Sharma, M. (2012).

Analysis and Comparison Betwen AESand DES Cryptographic Algorithm. International Journal of Engineering andInnovative Technolgy , 2 (6).http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/jte/article/viewFile/17452/17369